Sunday, 15 January 2017

CERITA FIKSI

HI GUYS!!! Di postingan berikutnya aku akan mengepost tentang cerita fiksi karanganku berjudul " KAMULAH YANG TERBAIK UNTUK KU" ,,, kalau kalian suka harap mengisi ungkapan kalian pada kolom komentar dan juga harap dishare juga kalo menurut kalian tulisanku itu bagus dan layak tuk dibaca. makasih ya........


MEMILIH PEMASOK BARANG DAN PENYEDIA JASA

KEWIRAUSAHAAN

KELOMPOK 9.
NAMA             : @  IVONI LAWA MONE
                          @  NUR JANNAH DAIMAN
JURUSAN       : ADM. BISNIS 2A
TAHUN           : 2011


MEMILIH PEMASOK BARANG DAN PENYEDIA JASA

1.      Perbedaan antara barang dengan jasa

Pada pertemuan yang sebelumnya kita sudah membahas apa itu barang dan jasa serta perbedaan di antara keduanya. Sekedar mengingatkan kembali perbedaan di antara keduanya, perhatikan table di bawah ini :

Barang
Jasa
Lebih mudah dibawa,diangakut,diserhkan
Di konsumsi di tempat jasa diproduksi
Pemindahan hak milik lebih mudah
Manfaat perubahan pada diri
Bisa disimpan, persediaan antisipatif sangat mungkin
Jasa tak terjual hilang,permintaan cendrung bersifat musiman
Lebih homogen. Produksi massal sangat mungkin
Lebih disesuaikan dengan permintaan
Lebih bergantung pada proses
Lebih bergantung pada manusia
Hubungan jangaka panjang dalam pembelian uang
Hubungan jangka panjang dalam interaksi intensif antara penyedia jasa dan nasabah(pelanggan)


2.      Perencanaan produksi untuk penjualan musiman

Bisnis baru biasanya bisnis kecil. Pada situasi persaingan sempurna,di mana bisnis kecil tidak bisa mempengaruhi/mengendalikan pasar sama sekali. Sehingga rencana penjualan pada dasarnya adalah ramalan dengan deviasi yang cukup besar di tambah dengan komitmen untuk memenuhi permintaan pasar. Pola musiman permintaan pasar bukan hal yang mustahil tapi cukup realistis untuk kebanyakan produk (baik barang maupun jasa). Hanya beberapa produk yang permintaanya tetap dan stabil dan hanya beberpa produk yang sifatnya acak(random).
Di antara  cara-cara yang paling lazim untuk mengatasi pola musiman penjualan adalah menyediakan sejumlah produk untuk mengantisipasi peningkatan permintaan pasar yang mendadak dan tak terduga. Tapi jumlah produk yang disediakan tidak boleh terlalu besar sehingga menyisihkan terlalu banyak produk yang 

3.   Kebijakan  produksi atau kebijakan persediaan
     

4.      Persediaan barang jadi

Persediaan barang jadi merupakan suatu investasi untuk mengantisipasi peningkatan permintaan pasar yang mendadak atau tak terduga.
Faktor-faktor dalam menentukan tingkat  persediaan yaitu
1.      pola musiman permintaan pasar (factor utama)
2.      fasilitas penyimpanan
3.      ketersediaan bahan baku
4.      waktu yang diperlukan untuk memproduksi ,dsbnya.

5.      Rencana produksi untuk bisnis jasa

Pola musiman permintaan pasar lazim juga untuk bisnis jasa. Dengan ciri-ciri dari jasa perencanaan produksi dengan kebijakan persediaan tidak bisa diterapakan untuk bisnis jasa, karena sifat produk yang cepat rusak  dan tidak bisa disimpan.  


















tak terjual bila situasi yang terjadi sebaliknya yaitu kemerosotan permintaan pasar.

PERSEKUTUAN KOMANDITER ATAU CV



TUGAS EKONOMI

NAMA              :   NUR JANNAH DAIMAN
NIM                  :   1023742782
JURUSAN        :   D3 ADMINISTRASI BISNIS 2A
DOSEN WALI  :   INDAHWATI  J  NINO,SE,MM
TAHUN             : 2011

SOAL.
1.      Apa itu CV ?
2.      Sebutkan syarat-syarat berdirinya CV !
Jawaban
·         Persekutuan komanditer
1.      Istilah persekutuan komanditer berasal dari bahasa Belanda, Commanditaire Vennotschaap atau CV. Persekutuan Komanditer adalah persekutuan yang terdiri atas beberapa pengusaha seorang atau lebih hanya turut serta menanamkan modal sebagai persero diam.
Pengusaha atau pemiliki CV menjadi pimpinan atas perusahaan tersebut dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan. Para penanam modal dalam CV hanya sebagai persero diam.
Berdasarkan uraian di atas, didalam persekutuan komanditer terdapat 2 anggota atau pemegang saham yaitu anggota (persero)  aktif dan anggota (persero) pasif.
*      Anggota aktif /persero aktif ( megaging partner )
Anggota/ persero yang bertugas memimpin,mengurus, megelola, mengawasi dan bertanggung jawab atas maju mundurnya perusahaan. Anggota/persero ini disebut pengusaha yang memegang pimpinan perusahaan dan bertanggung jawab penuh atas jalannya perusahaan. Selain memasukkan modal pada perusahaan, persero aktif juga bertanggung jawab penuh atas utang-utang perusahaan dengan seluruh harta bendanya,baik harta benda yang ditanamkan pada perusahaan maupun harta benda lainnya.
*      Anggota  pasif /persero komanditer ( sleeping partner)
Persero/anggaota yang hanya berperan memasukkan modalnya pada perusahaan dengan mengharapkan bunga atau bagian keuntungan CV atau disebut diven. Persero atau anggota jenis ini tidak diperkenankan ikut campur dalam usaha yang dilakukan perusahaan( CV ) oleh persero aktif. Apabila perusahaan menderita rugi atau gukung tikar/bangkrut, persero pasif bertanggung jawab terbatas pada modal yang di tanam.
Ada beberapa jenis persekutuan komanditer (CV) yaitu sebagai berikut :
*      Persekutuan komanditer murni : persekutuan yang hanya terdiri dari seorang sekutu aktif dan yang lainnya sekutu pasif.
*      Persekutuan komanditer campuran : persekutuan yang terdiri atas beberapa sekutu aktif dan beberapa sekutu pasif.
*      Persekutuan komanditer bersaham : persekutuan yang mengeluarkan surat-surat berharga atau saham-saham , baik sekutu aktif maupun sekutu pasif mengambil satu atau lebih saham yang dijual.
Sehubungan dengan tugas, Tanggung jawab dan peran sekutu/anggota, dikenal berbagi macam sekutu yaitu sebagai berikut
*      General partner : sama dengan sekutu aktif atau sekutu pemelihara yang bertanggung jawab penuh terhadap pihak ketiga dan turut memimpin perusahaan.
*      Silent partner : sekutu yang tidak turut aktif dalam menjalankan kegiatan persekutuan, tetapi dikenal umum sebagai sekutu dalam persekutuan (perusahaan).
*      Secret partner : sekutu yang turut aktif kegiatan persekutuan walaupun ia tidak diketahui umum sebagai sekutu dalam persekutuan (perusahaan).
*       Sleeping partner : sekutu yang tidak turut dalam kegiatan perusahaan dan tidak dekenal umum sebagai sekutu dalam persekutuan.
2.      Persekutuan komanditer didirikan dari badan usaha perseorangan maupun firma. Jika badan usaha perseorangan atau firma ingin mengembangkan usaha sehingga memerlukan tambahan modal dan tidak menghendaki kepemimpinananya dicampuri orang lain, maka diterbitkan surat sero atau saham yang kemudian dijual kepada masyarakat yang membutuhkan.
Syarat-syarat berdirinya CV :
*      Mensyratkan pendirian oleh 2 orang dengan menggunakan akta Notaris yang berbahasa Indonesia. Seiring perkembangan zaman, pendirian CV mengharuskan menggunakan Akta Notaris, namun dalam Kitab Undang-Undang Hukum dagang dinyatakan bahwa pendirian CV tidak mutlak harus dengan akta Notaris

Periodesasi PR/Humas, Kristalisasi Opini Public



Makalah
Public relations
  periodesasi pr/humas,
       kristalisasi opini public ”




O l e h
Kelompok  1
1.  Nur   jannah  daiman
2.  Kristina  dimu
3.  melkianus  Daniel t.
4.  rikhi  rissie




Administrasi bisnis 4 a
Politeknik negeri kupang
2012





KATA PENGANTAR
            Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih dan rahmatNya,penyusun masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makala ini dengan judul “Periodesasi Pr/Humas, Kristalisasi Opini Public”sebagai salah satu bentuk tugas dari dosen.
            Penyusun menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan tulisan ini

Kupang, 25  April    2012
                                                                                                                                    Penyusun






                                                                           DAFTAR ISI
Halaman
Lembaran judul
Kata pengantar............................................................................................................................. 2   
Daftar isi...................................................................................................................................... 3   
Bab I  Pendahuluan .................................................................................................................... 4
1.1        Latar Belakang........................................................................................................... 4   
1.2    Rumusan Masalah...................................................................................................... 5   
1.3    Tujuan........................................................................................................................ 5
1.4    Manfaat...................................................................................................................... 5
1.5    Metode penulisan....................................................................................................... 6 
Bab II  Pembahasan..................................................................................................................... 7
2.1   Periodesasi Public Relations ( Humas )..................................................................... 7
2.1.2   Perkembanngan PR / Humas di Indonesia.......................................................... 8
2.1.3   Fungi Investor Relations..................................................................................... 10
2.2   Opini Public................................................................................................................ 10
2.2.1    Pengertian Opini Public...................................................................................... 11
2.3    Kristalisasi Opini Public…………………………………………………………….11
2.4    Faktor Penilaian Sikap( Attitude)…………………………………………..………12
2.5    Faktor Konsensus ( Consensus )…………………………………………………….13
Bab III Penutup........................................................................................................................... 15
3.1   Kesimpulan................................................................................................................. 15
Daftar Pustaka............................................................................................................................. 16




BAB I
PENDAHULUAN

1. 1  Latar  Belakang
     Humas kependekan dari hubungan masyarakat. Hal ini seringkali disederhanakan sebagai sebuah terjemahan dari istilah Public Relations (PR).PR/ Humas itu sendiri adalah  fungsi manajemen yang menilai sikap public , mengidentifikasikan kebisaksanaan  dan tata cara organisasi demi kepentingan public serta merencanakan suatu program kegiatan dan komunikasi untuk memperoleh pengertian dan dukungan public.
      PR/ humas telah mengalami perkembangan yang pesat  seiring dengan berjalannya waktu( perkembangan zaman) Namun perkembangan PR dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya.Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks. Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadaan manusia. Unsur-unsur memberi informasi kepada masyarakat, membujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat, adalah landasan bagi masyarakat.
Keterkaitan antara opini public dengan  PR/ Humas yaitu dalam PR terjadi interaksi yang mana menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan untuk kedua belah pihak, dan menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan menanamkan keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari publiknya.
opini public itu sendiri adalah presepsi dari suatu kelompok mengenai suatu permaslahan melalui suatu pernyataan  tentang apa yang telah dirasakan. Untuk memahami opini seseorang seorang pejabat humas harus menevaluasi secara berkala tentang opini yang sedang beredar dalam segmen public. Opini dari perorangan tersebut kemudian secara akumulatif berkembang menjadi suatu konsesus ( kesepakatan) dan terkristalisasi jika masyarakat dalam kelompok terentu mempunyai kesamaan dalam visi, ide, nilai-nilai yang dianut dan latar belakang budaya dan hingga tujuan yang hendak dicapai dikemudian hari akan terbentuk menjadi opini public.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka secara umum rumusan dalam makalah ini adalah:
1.  Bagaimana perkembangan Public Relations dalam periodesasi?
2.  Apa itu opini public?
3.  Bagaiman Kristalisasi dalam Opini Public?
4.  Faktor Penilaian Sikap( Attitude) apa saja yang berhubungan dengan opini public?
5.  Faktor Konsensus ( Consensus ) apa yang berhubungan dengan opini?
1.3  Tujuan
Tujuan dalam pembahasan makalah ini, yang berjudul “” berdasarkan rumusan masalah di atas, adalah untuk membahas hal-hal yang sesuai dengan permasalahan yang diajukan antara lain :
1.  Mengetahui perkembangan Public Relations dalam periodesasi
2.  Mengetahui apa itu opini public
3.  Mengetahui Kristalisasi dalam Opini Public
4.  Mengetahui Faktor Penilaian Sikap( Attitude) yang berhubungan dengan opini public
5.  Mengetahui Faktor Konsensus ( Consensus ) yang berhubungan dengan opini
1.4  Manfaat
Selain tujuan daripada penulisan makalah, perlu pula diketahui bersama bahwa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah dapat menambah khazanah keilmuan   terutama mengenai Periodesasi Pr/Humas, Kristalisasi Opini Public.


1.5  Metode Penulisan
Dalam penulisan makala ini, penulis menggunakan metode studi pustaka yang berorientasi pada buku yang berhubungan dengan judul makalah




 BAB II
PEMBAHASAN

2.1  PERIODESASI PUBLIC RELATIONS ( HUMAS )
     Sejarah perkembangan public relations,yaitu melalui tahap-tahap perkembangan dalam periodesasi atau kurun waktu tertentu, antara lain sebagai berikut:
Periode 1:
Tahun 1700-1800 yakni disebut masa public relations dalam bentuk aktivitas yang tidak terorganisir dengan baik ( PR as non organized activity ), misalnya dalam bentuk acara yang sederhana, penyelanggaraan pidato, pertemuan tertentu,dan korespondensi antar perorangan dengan pihak lain.
Periode ke-2:
Masa tahun 1801-1865, aktivitas public relations mulai terorganisasi dengan baik, kerena diakibatkan adanya peningkatan hubungan perdagangan baik secara local, nasional maupun internasional.
Periode ke-3:
Tahun 1866-1900, aktivitas public relations sebagai professional karena adanya perkembangan dari kemajuan teknologi industri, bidang kelistrikan dan mesin pembakaran dan sebagainya mulai dipergunakan industry.
Periode ke- 4:
Tahun 1901-1919, yakni disebut Public be informed periode. Pada masa ini terjadi aksi protes yang dilakukan oleh  masyarakat terhadap kejahatan yang dilakukan oleh para usahawan dan politisi yang tidak bermoral, serta koruptor. Maka aktivitas PR atau pers melakukan investigative reporting yaitu melawan mereka dengan tulisan atau mengumpah wartawan untuk membalasnya melalui pengaruh berita yang dimuat dimedia massa.
Periode ke-5:
Tahun 1920 sampai sekarang disebut The PR and mutual understanding periode. Perkembangan PR/ Humas sekarang ini menunjukan adanya penyesuaian perubahan sikap, saling pengertian, saling menghargai dan toleransi di berbagai kalangan organisasi dan public.
2.1.2  Perkembanngan PR / Humas di Indonesia
Perkembangan PR/ Humas di Indonesia masih tergolong baru namun pada tahun 1950-an fungsi kehumasan sudah dikenal secara formal dan terorganisasi dengan baik. Yakni sejarah pertama kali berdirinya Humas di perusahaan perminyakan Negara ( pertamina), yang berfungsi secara terbatas untuk hubungan masyarakat dengan pihak perusahaan rekan, pemasok dan pengguna produk. Kemudian pada tahun 1954 secara resmi diterapkan pada jajaran kepolisian dengan nama Hubungan Masyarakat ( Humas ) dan pada tahun 1970 dalam hal yang sama perkembangan dan keberadaann peranan humas telah diterapkan di berbagai instansi pemerintahan maupun swasta.
Berikut periode perkembangannya:
Periode 1:
Pada tahun 1962, Cikal bakal pembentukan Humas di Indonesia secara resmi melalui Presedium Kabinet PM Juanda, yang menginstruksikan agar setiap instansi pemerintahan harus membentuk bagian divisi Humas. Tugas kehumasan pemerintahan yakni secara garis besar :
ð   Tugas stategis : ikut serta dalam proses pembuatan keputusan oleh pimpinan dan  hingga pelaksanaannya.
ð   Tugas taktis : upaya memberikan informasi, motivasi melaksanakan komunikasi timbal balik dua arah dan hingga mampu menciptakan atas institusi/lembaga yang diwakilinya.
Periode ke-2:
Tahun 1967-1971 Humas kedinasan pemerintahan;yakni dimulai terbentuknya suatu wadah yang dinamai “ Badan Koordinasi Kehumasan “( Bakorhumas ). Kemudian perkembangan pada tahun 1970-1971, Bakor diubah menjadi Bakohumas( Badan Koordinasi Kehumasan pemerintah ) yang melalui SK Menpen No. 31/kep/Menpen/Tahun 1971 sebagai sebagai institusi formal dalam Lingkunagan Dapartemen Penerangan RI.
Periode Ke-3:
Tahun 1972 dan tahun 1987, munculnya Public Relations (Humas) kalangan professional pada lembaga swasta umum,pertama : ditandai atau didirikannya suatu wadah profesi humas yaitu Perhumas ( Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia) pada 15 Desember 1972 oleh kalangan Praktisi swasta dan termasuk pemerintahan. Kedua : pada tanggal         10 April 1987 di Jakarta dibentuk suatu wadah profesi Humas lainnya yang disebut dengan Asosiasi Perusahaan Public Relations ( APPRI) yang merupakan sebuah wadah profesi berbentuk organisasi dari perusahaan Public Relations yang idenpenden. Yaitu misi utamanya adalah ingin mendarmakan kemampuannya kepada bangsa dan Negara, khususnya sebagai profesionalisme bidang Public relations, baik kegiatan keluar maupun kegiatan kedalam.
Periode ke-4:
Tahun 1995 sampai sekarang, Publicv Relations di kalangan swasta bidang professional khusus ( Spesialisasi Humas bidang industry pelayanan jasa).
Pertama :  ditamdai dengan terbentuknya Himpunan Humas Hotel Berbintang (H-3) dan didirikan pada tanggal 27 November 1995.
Kedua : berdirinya Forum Komunikasi Humas Perbankan ( Forkamas ) yang merupakan forum resmi bagi para pejabat humas bidang jasa perbankan di Indonesia, baik kalangan bank-bank pemerintah( Himbara) maupun swasta (perbanas) serta bank asing dan campuran yang beroperasi di Indonesia. Tujuan utama Forkomas adalah menjalin hubungan kedalam antara Himbara dengan Perbanas dan membina hubungan keluar dalam upaya membina hubungan baik dengan public dan mampu menciptakan citra dan opini positif bagi perbankan nasional.
Ketiga : sesuai dengan SK BAPEPAM No.63/1996, tentang perlunya pihak Emiten( perusahaan yang go public) di pasar Bursa Efek Jakarta maupun Surabaya memiliki lembaga Corporate Secretary. Kelembagaan  Corporate Secretary dalam  sebuah perusahaan public yang bersifat terbuka ( Emiten telah go public di pasar Bursa) adalah berfungsi sebagai Communicator atau mediator, mengatur arus informasi antara perusahaan/ emiten dan investor atau nasabah. Seiring berjalannya waktu  Corporate Secretary telah banyak dipakai oleh perusahaan besar( holding company) yang tidak harus berbentuk perusahaan public atau telah go public. Yang membedakan antara fungsi PR/Humas biasa dengan Corporate Secretary adalah berhadapan dengan konsekuensi “ apa dan bagaimana” bentuk public sebagai sasarannya. Public sasarannya tidak lagi bersifat umum namun lebih khusus semisalnya investor, nasabah dsb yang memiliki tingkat social ekonomi dan kemampuan tentang penguasaan pengetahuan/ inteleknya yang rata-rata tinggi serta kritis.
2.1.3  Fungi Investor Relations
Sesuai dengan Keputusan BAPEPAM No.63/1996 yaitu pembentukan sekretaris perusahaan (Corporate Secretary) yang berperan sebagai penghubung atau contact person  memberikan pelayanan informasi kinerja mengenai kondisi dan kegiatan bisnis, keuangan saat ini serta prospek keuntungan perusahaan di masa-masa yang akan datang dan lain sebagainya kepada pihak yang membutuhkan khususnya bagi masyarakat pemodal( investor). Dan sekaligus mampu menciptakan hubungan komunikasi yang baik dan sekaligus saling menguntungkan bagi kedua belah pihak( Investor Relationship).
2.2   Opini Public
Menurut pakar ilmu komunikasi Universitas Indonesia dan Unpad-Bandung Drs.Dja’far H. assegaf dan Drs. R. Rukomy mengenai Public opinion mengungkapkan bahwa istilah “ opini public” lebih tepat digunakan sebagai pengganti dari kata “ pendapat umum” alasannya :
1. istilah “pendapat umum” pada kamus bahasa Indonesia, bahwa kosa kata “ dapat” berarti kemampuan   untuk berbuat sesuatu( tangible) dan kata “ umum ” berarti luas atau jamak tidak spesifik merujuk kepada kelompok tertentu.
2. Sebaliknya istilah “ opini public”. Opini adalah serapan dari bahasa asing ( opinion) merupakan tanggapan atau jawaban terbuka terhadap suatu persoalan yang dinyatakan berdasarkan kata-kata baik lisan maupun tulisan dan juga berupa perilaku sikap tindakan,padangan dsb. Dan “ public” lebih tepat dan mempunyai arti sempit mewakili kelompok atau khalayak tertentu/terbatas sebagai objek sasarannya.
2.2.1   Pengertian Opini Public
     Menurut Dra. Djoenaesih S. Sunarjo,SU dalam bukunya opini public, terbitan liberty Yogyakarta,1997, menyebutkan bahwa cirri-ciri opini yaitu:
1. Selalu diketahui dari pertanyaan-pertanyaannya
2. Merupakan sintesa atau kesatuan dari banyak pendapat
3. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar
Untuk memahami opini seseorang dan public tersebut, menurut R.P Abelson bukanlah hal yang mudah kerena mempunyai kaitan yang erat dengan:
1. Kepercayaan mengenai sesuatu(belief)
2. Apa yang sebenarnya dirasakan atau yang menjadi sikapnya
3. Presepsi yaitu suatu proses memberikan makna yang berakar dari berbagai factor yakni
a. Latar belakang budaya,kebiasaan dan adat istiadat yang dianut seseorang atau masyarakat.
b. Pengalaman masa lalu seseorang / kelompok tertentu menjadi landasan atas pendapat atau pandangan.
c.   nilai- nilai yang dianut
d. berita-berita dan pendapat yang berkembang yang kemudian mempengaruhi pandangan seseorang.
2.3   Kristalisasi Opini Public
   Menurut R.P Abelson, opini public atau perorangan berkaitan erat dengan sikap mental    (attitude), tinkah laku( behavior), presepsi dan hingga kepercayaan tentang Sesuatu (belief).  Sedangkan opini tersebut secara garis besar pengertiannya adalah melalui suatu pernyataan seseorang tentang apa yang telah dirasakannya.
   Proses pembentukan opini dimulai dari pandangan seseorang sehingga terbentuknya opini public yakni berakar dari latar belakang budaya, pengalaman masa lalu, nilai-nilai yang dianut dan berita yang sedang berkembang. Dari proses inilah yang akan melahirkan suatu interpretasi atau pendirian seseorang dan pada akhirnya akan terbentuk suatu opini public, apakah nantinya bersifat mendukung atau menentang.
   Opini dari perorangan tersebut kemudian secara akumulatif dapat berkembang menjadi suatu konsesus ( kesepakatan) dan terkristalisasi jika masyarakat dalam kelompok terentu mempunyai kesamaan dalam visi, ide, nilai-nilai yang dianut dan latar belakang budaya dan hingga tujuan yang hendak dicapai dikemudian hari akan terbentuk menjadi opini public.
2.4   Faktor Penilaian Sikap( Attitude)
     Faktor-faktor yang dapat membentuk opini tersebut  menurut D.W. Rajecki dalam bukunya Attitude, Themes and Advance,1982, yaitu mempunyai 3 komponen yang dikenal denga istilah ABCs Of attitude, penjelasannya sebagai berikut:
1.  Komponen A: Affect( perasaan atau emosi)
 Merupakan evaluasi berdasarkan perasaan seseorang yang secara emotif untuk menghasilkan penilaian, yaitu :” Baik dan buruk ”
2.  Komponen B: Behaviour ( tingkah laku )
Merupakan komponen untuk menggerakan seseorang secara aktif untuk melakukan tindakan atau perilaku atas suatu reaksi yang sedang di hadapinya.
3. Komponen C : Cognition ( pengertian atau nalar)
Komponen ini menghasilkan penilaian atau pengertian dari seseorang berdasarkan rasio atau kemampuan penalarannya. Artinya kognitif tersebut merupakan aspek kemampuan intelektualitas seseorang yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.
     Menurut Emory S. Bogardus terdapat beberapa macam pengertian tentang opini public antara lain:
1.  Personal opinion
Opini berdasarkan penafsiran individu atau setiap orang akan bebeda pandangan tentang suatu masalah.
2.  Private opinion ( opini pribadi)
 Opini ini merupakan landasan bagi opini persona, kerena merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari opini pribadi.
3.  Group opinion( opini kelompok)
Opini kelompok ini terbagi menjadi opini mayoritas dan opini minoritas. Opini ini mendekati dengan opini public

4.   Coalition opinion ( opini koalisi)
Opini ini adalah penggabungan dari beberapa kelompok opini minoritas dan menjadi opini mayoritas
5.  Concensus opinion ( opini Konsesus)
Opini ini melalui suatu proses perundingan untuk mencapai kesepakatan bersama dan merupakan opini berbentuk opini mayoritas berdasarkan kesepakatan bersama.
6.  General Opinion ( opini umum)
Bentuk opini ini bersifat pandangan umum yang berakar dari nilai-nilai yang berkembang dan berlaku di masyarakat tertentu berdasarkan adat istiadat, kebiasaan, kebudayaan dan norma-norma yang dianut masyarak bersangkutan
Pendapat Myers, 1983. Bahwa ada kaitan erat antara sikap dan perilaku seseorang. Artinya perilaku tersebut merupakan sesuatu yang banyak menerima pengaruh dari lingkungan sehari-hari, jadi sikap seseorang/ kelompok yang di ekspresikan atau diperlihatkan itu tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya dimana bersangkutan berada. Sikap yang diekspresikan itu biasanya dapat dinamakan” perilaku”. Perilaku dan sikap saling berinteraksi,serta saling mempengaruhi satu sama lain. 
2.5  Faktor Konsensus ( Consensus )
     Menurut Renald Kasali, dalam bukunya “ Manajemen Public Relations” Konsep dan Aplikasinya di Indonesia,1994, bahwa perkembangan opini-opini Individual menjadi opini public, baik bersifat mendukung maupun menentang  yaitu secara garis besarnya melalui beberapa tahapan:
1. factor waktu
Memerlukan proses waktu untuk membentuk consensus atas masing-masing individu dan beberapa lama waktu yang dibutuhkan sangat tergantung pada unsure emosi, kesamaan presepsi, kepercayaan atas suatu isu berita yang tengah berkembang, tingkat pengalaman yang sama, dan hingga tindakan yang diambil oleh nara sumber berita.
2.  Cakupan ( luasnya public)
Consensus atas masing-masing individu terhadap pembentukan opini public, biasanya berawal dari segmen yang paling minor( kecil ), kemudian cepat atau lambat menjadi segmen mayor atau berkoalisi dengan kelompok yamg lebih luas.

3.  Pengalaman masa lalu
Khalayak pada umumnya pernah memiliki pengalaman terhadap isu tertentu yang sedang dibicarakan dan makin intensif hubungan antara audience dan isu sebagai objek pembicaraan. Maka semakin banyak pengalaman yang sama akan dirasakan oleh khalayak tersebut menjadi suatu consensus.
4.   Tokoh ( actor pelaku )
Hampir setiap kasius yang terekspos keluar oleh media massa sudah pasti akan selalu ada “ tokohnya ” baik bersifat intelektual, politisi,eksekutif.,Tokoh agama dan masyarakat maupun kasus-kasus criminal yang dapat membentuk consensus masyarakat.
5.   Media massa pembentuk opini public
Media massa melalui berita yang ditampilkan atau diekspos keluar tersebut merupakan cara efektif sebagai pembentuk opini public atau masyarakat umum.


 
BAB III
PENUTUP

3. 1  Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab sebelumnya  dapat disimpulkan bahwa:
1. kegiatan kehumasan/ PR telah ada sejak lama yaitu sejak tahun 1700 dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman hingga pada  Tahun 1920 sampai sekarang perkembangan PR/ humas telah menunjukan adanya penyesuaian, perubahan sikap, saling pengertian, saling menghargai dan toleransi di berbagai kalangan organisasi dan public. Di Indonesia sendiri walau PR/ Humas masih tergolong baru namun fungsi kehumasan telah dikenal secara formal dan terorganisir dengan baik sejak tahun 1950-an hingga pada tahun 1995 sampai sekarang publik relations  banyak di pakai tidak hanya di pemerintahan tapi juga di kalangan swasta.
2.  Opini public adalah tanggapan atau jawaban terbuka terhadap suatu persoalan yang dinyatakan berdasarkan kata-kata baik lisan maupun tulisan dan juga berupa perilaku sikap tindakan,padangan yang mewakili kelompok atau khalayak tertentu/terbatas sebagai objek sasarannya.
Ada beberapa hal yang erat kaitannya opini yaitu
ð  Kepercayaan mengenai sesuatu(belief)
ð  Apa yang sebenarnya dirasakan atau yang menjadi sikapnya
ð  Presepsi yaitu suatu proses memberikan makna yang berakar dari berbagai factor yakni
a. Latar belakang budaya,
b. Pengalaman masa lalu
c.  Nilai- nilai yang dianut
d. Berita yang bercabang
Dan opini-opini individu berkembang menjadi opini public melalui beberapa tahapan yaitu :
1. factor waktu    2.   Cakupan ( luasnya public)    3.  Pengalaman masa lalu
4.   Tokoh ( actor pelaku )    5.   Media massa pembentuk opini public



DAFTAR PUSTAKA

Ruslan Rosady.1997. MANAJEMEN HUMAS DAN MANAJEMEN KOMUNIKASI ( Konsepsi dan Aplikasi). Jakarta:  Raja Grafindo







Kamulah Yang Terbaik Untuk Ku #5

5.                  Dirimu mengalihkan Duniaku Minggu pagi yang Cerah ceria. Tetesan embun membasahi dedaunan, kicauan merdu burung-...